Sabtu, 16 Juni 2012

Invantion dari Novel “Eclipse” Yang Membuatnya Masuk Pada Kategory Novel Popular


Eclipse adalah sebuah novel yang merupakan salah satu Novel populer dari sequel “Twilight saga” karya Stephany Meyer yang sukses dipasaran. Novel ini memberikan sesuatu hal yang baru yang ditawarkan kepada pembacanya. Mungkin dalam novel-novel terdahulu pernah ada yang menceritakan tentang kisah cinta segitiga. Namun dalam novel ini diceritakan sebuah cinta segita yang berbeda dengan kisah-kisah lain yang sebelumnya pernah ada.
Dalam Novel ini menceritakan tentang sebuah cinta segitiga yang ganjil. Disini diceritakan seorang wanita yang bernama Issabella terjebak dalam sebuah dilema cinta antara dirinya seorang Vampir yang bernama Edward dan Jacob seorang manusia srigala. Awalnya bella hanya mencintai Edward saja tetapi setelah segala kebaikan yang dilakukan oleh Jacob kepadanya membuat dia sedikit menaruh hati kepada Jacob. Dan ternyata, Jacob juga sudah menaruh hati kepada Bella dari dulu. Melihat kedekatan antara bella dan Jacob membuat edward pun sedikit cemburu. Di dalam serita disebutkan sering terjadi ketegangan antara keduanya yang membuat Bella kebingungan dalam memihak. Seperti yang sudah diketahui bahwa mitos mengenai vampir dan manusia serigala adalah bermusuhan. Ini lah yang membuat cerita ini terkesan menarik dan aneh. Di akhir Bella sendiri terlihat lebih memilih Edward daripada Jacob

Analysis
Seperti yang pernah dijelaskan seblumnya dalam pembahasan mengenai novel poplit dikelas bahwa dalam novel-novel poplit terdapat dua unsur.
-          Convention
-          Invention

      A.    Convention
Konvensi adalah bentuk dasar yang sudah baku dalam sebuah genre dalam novel-novel populer.
Setelah membaca keseluruhan dari novel ini saya mengkategorikan karya ini kedalam karya yang bergenre percintaan atau Romance.
Konvensi dari novel yang bertemakan percintaan adalah
-          Adanya tokoh laki-laki
-          Adanya tokoh perempuan
-          Adanya sebuah hubungan percintaan di antara mereka
Jika kita lihat dalam novel ini, adanya Ellisabeth dan Edward yang menjalin kasih sudah termasuk kepada konvensi yang disebutkan diatas sehingga bisa dikategorikan sebagai Novel berjenis percintaan atau Romance


      B.     Invantion
Invansi adalah sebuah pengembangan ide cerita dari konvensi awalnya sehingga cerita tersebut menjadi lebih menarik.
Invansi dari novel ini
-          Menghadirkan tokoh ketiga sehingga lebih mewarnai percintaan mereka.
-          Percintaan mereka dibuat unik karena tokoh perempuan yang seorang manusia menjalin hubungan dengan seorang vampir, dan bahkan orang ketiga yang ikut masuk kedalam percintaan mereka juga seorang manusia serigala yang merupakan musuh bebuyutan dari Vampir.
-          Tokoh Vampir yang ada di dalam cerita ini tidak digambarkan sebagai seseorang yang menyeramkan dan kejam, melainkan gagah, baik dan tidak menghisap darah manusia tetapi darah dari binatang. Begitu juga sosok manusia serigala yang diceritakan bertugas untuk melindungi manusia dari ancaman vampir.

Invantion adalah salah satu unsur dalam karya poplit yang bisa membuat sebuah karya bisa menjadi populer dan laku dipasaran. Itu disebabkan karena invantion berupa eksplorasi atau pengembangan dari Convention sehingga cerita terkesan lebih menarik dan memberikan kita kesan yang unik yang mungkin belum pernah kita temui sebelumnya.
            Dari invantion yang ada dalam novel Eclipse inilah yang membuat karya ini masuk kedalam novel populars yang sangat banyak di minati karena memberikan sesuatu yang baru dan berbeda dikalangan masyarakat.

Faktor-faktor Penyebab Terkenalnya Novel The Lost Symbol Karya Dan Brown

Dan Brown yang telah sukses dengan Da Vinci Code dan Angels and Demons, melanjutkan tulisannya tentang kisah Robert Langdon dalam The Lost Symbol. Dalam novel ini Robert Langdon, menelusuri jejak misterius kaum Freemason di jantung Amerika, Washington D. C. Novel ini bisa adalah hasil tumbukan novel-novel Dan Brown sebelum-sebelumnya. Dua novel sebelumnya Angels and Demons dan Da Vinci Code bercerita tentang Robert Langdon yang berusaha menemukan jawaban di balik simbol-simbol kuno yang sangat rahasia. Dan di novel The Lost Symbol ini lah, symbol-simbol yang berkaitan dengan Negara Amerikalah yang ingin dibongkar Robert Langdon. Dalam novel ini saya akan menjelaskan faktor-faktor pendukung mahsyurnya novel Dan Brown ini.

Pemikiran Radikal Langdon
The woman laughed. “Those turtlenecks you wear are so dated. You’d look much sharper in a tie!” 
No chance, Langdon thought. Little nooses.
 Neckties had been required six days a week when Langdon attended Phillips Exeter Academy, and despite the headmaster’s romantic claims that the origin of the cravat went back to the silk fascalia worn by Roman orators to warm their vocal cords, Langdon knew that, etymologically, cravat actually derived from a ruthless band of “Croat” mercenaries who donned knotted neckerchiefs before they stormed into battle. To this day, this ancient battle garb was donned by modern office warriors hoping to intimidate their enemies in daily boardroom battles.(hal.7)

Dalam kutipan yang saya ambil di atas, saya melihat pemikiran Dan Brown dengan wawasannya menjelaskan asal-usul hal yang sudah diterima secara umum dan tidak perlu diadakan pembahasan yang mendetail. Ketika membaca bagian tersebut, saya mencari beberapa gambar Dan Brown, dan ternyata masalah dasi ini berhubungan dengan penulis tersebut, yang banyak tidak menggunakan dasi, pada setiap kesempatannya. Saya berpendapat masalah dasi ini juga mendukung karakter Langdon yang mengenakan kaus berleher panjang turtlenecks, watak yang tidak terlalu mementingkan penampilan, karena penampilan luar hanyalah topeng, dan menurut saya Langdon tidak mau menggunakan topeng yang ia ketahui asal-usulnya, kecuali jika terpaksa.

Pesan Tersembunyi Berselimut Kriminal

Jika dilihat secara menyeluruh, Robert Langdon dalam novel ini diceritakan harus menolong temannya, Peter Solomon, grand master kelompok Freemason yang diculik seorang penjahat misterius. Si penculik menginginkan Langdon menemukan Kata yang Hilang yang disembunyikan di balik piramida suci Freemason. Konon Kata yang Hilang itu bisa membuka kekuatan rahasia yang tersembunyi dalam tubuh setiap manusia. Membuatnya memiliki kekuatan yang mendekati kekuatan Tuhan.
Novel ini cocok jika dikategorikan dalam genre novel kriminal, akan tetapi teka-teki didalamnya membuat novel ini kuat dengan misteri yang harus diungkap dengan pikiran yang terbuka. Di awal cerita Langdon di undang oleh Peter Solomon, dan membawa barang yang Peter titipkan sebelumnya. Setelah tiba di Capitol, Langdon mengetahui bahwa yang mengundang bukanlah Peter, tetapi Mal’akh, yang memintanya untuk menemukan Lost Word pada pyramid Mason yang terletak di bawah kota Washington.
Kemudian Langdon bertemu Trent Anderson, kepala polisi Capitol, and Inoue Sato kepala kantor keamanan CIA. Langdon ditahan karena tidak dapan menjelaskan barang yang dibawanya-piramid manson-. (chpt 50) Sebelum ditahan  Langdon dibawa kabur oleh Warren Bellamy yang menyerang Anderson dan Sato.
Langdon dipaksa oleh Mal’akh untuk mengungkap The Lost Word yang dapat membuka kunci kekuatan Tuhan pada manusia. Namun diselamatkan oleh Sato, kemudian diketahui bahwa Mal’akh adalah anak laki-laki dari Peter, yang sudah lama dianggap meningal.
“On the contrary. One of the prerequisites for becoming a Mason is that you must believe in a higher power. The difference between Masonic spirituality and organized religion is that the Masons do not impose a specific definition or name on a higher power. Rather than definitive theological identities like God, Allah, Buddha, or Jesus, the Masons use more general terms like Supreme Being or Great Architect of the Universe. This enables Masons of different faiths to gather together.” (hal.21)

Manson atau Freemason sendiri dalam penjelasan Langdon adalah sebuah perkumpulan yang secara kasar bertolak belakang tetapi mempunyai persamaan dengan “keyakinan” dalam agama. Dalam menjelaskan tentang aliran-aliran keyakinan, agama, dan kegiatan-kegiatan tertentu yang membuat kita merasa takut, Brown menjelaskan semua dengan sudut pandang berbeda, dan melalui Langdon, Brown mengajak pembaca untuk dapat membuka pikiran akan semua ritual-ritual dalam suatu keyakinan.
“Open your minds, my friends. We all fear what we do not understand”


Misteri Sejarah
            Dalam novel ini selain syarat akan filosofi-filosofi Dan Brown, juga pengetahuan dan sejarah yang mencengangkan, membuat pembaca untuk berpikir keluar dari cerita novel sendiri. Tentang sejarah Amerika, Washington D.C. awalnya bernama “Rome”, hal itu dijelaskan ketika Langdon mengajar tentang simbol Amerika. Begitu juga dengan Capitol building, adalah replica sebuah gedung di Vatican.
America’s intended destiny has been lost to history
Pada halaman 134, ada beberapa simbol yang kita ketahui dengan sandi kotak di pramuka yang berawal dari Freemason. Ternyata para pendiri Amerika adalah orang-orang yang memiliki ketertarikan dengan simbol-simbol bangsa lain-khususnya di Eropa- dan ingin memunculkannya di Negara Amerika tersebut.

Pengaruh Setting terhadap Karakterisasi Dalam Novel The Adventures of Huckleberry Finn


The Adventures of Huckleberry karya dari Mark Twain di publishkan pertama kali di Inggris pada bulan desember 1884. Novel ini terdiri dari 43 Chapter dan menjadi salah satu karya terbesar dari Mark Twain dan bertemakan tentang perbudakan, persahabatan dan kebebasan.
            Novel ini menceritakan tentang petualangan Huckleberry yang mempunyai seorang ayah pemabuk dan kasar. dia kemudian tinggal dan dirawat oleh Mrs. Douglas dan adiknya Mrs. Watson. Huck merasa tidak nyaman dan terkekang tinggal bersama mereka karena aturan-aturan yang ada dirumah itu. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi dan lebih memilih hidup diluar untuk mendapatkan kebebasannya. Dalam novel ini juga diceritakan bahwa dia melakukan perjalanan bersama Jim yang sebenarnya adalah budak dari Mrs. Douglas sendiri yang kabur dan juga berusaha mencari kebebasannya.

Karakterisasi dalam The Adventures of Huckleberry Finn.
            Dalam karakterisasi ada beberapa hal yang harus kita ketahui untuk menentukannya.
1.      Karakteristik dilihat dari segi peranannya dalam cerita
Karakter Utama          : Karakter yang menjadi pusat cerita
Karakter sampingan    : Karakter lain yang juga ikut mempunyai peran dalam cerita.
            Dalam hal ini karakter sampingan juga mempunyai tingkatan-tingkatan sendiri berdasarkan besar atau pengaruhnya terhadap jalannya cerita. jadi ada karakter sampingan utama dan seterusnya.
2.      Karakteristik yang dilihat berdasarkan sifatnya.
Protagonist                  : Karakter yang memainkan peran-peran baik dan biasanya menjadi tokoh
  utama.
Antagonist                  : Karakter yang menentang kepada protagonist dan menghambat jalannya
  cerita.
Dalam antagonist  juga ada yang disebut Antagonist Force yakni ketika faktor lingkungan dan situasi yang menjadi penghambat atau penentang terhadap tokoh utama.
Ada juga yang disebut :
Karakter Static            : Karakter yang sifatnya tidak berubah seiring berjalannya cerita.
Karakter Dinamic        : Karakter yang sifatnya berubah seiring berjalannya cerita.

            Dalam The Adventure of Huckleberry Finn yang menjadi tokoh sentral atau tokoh utama adalah Huckleberry sendiri. Sedangkan untuk karakter sampingan ditentukan dengan cara dilihat dari segi peranannya. Dalam cerita karakter seperti Jim yang peranannya cukup berpengaruh dalam cerita bisa dikatakan sebagai karakter sampingan utama.  Adapun Karakter seperti Mrs. Douglas, ayahnya Huck juga keluarga Grangeford, Sheperdson, dan yang lain walaupun masing masing mempunyai peranan, tetapi tidak seperti peranan Jim dalam cerita, jadi bisa dikatakan mereka hanya sekedar pemeran sampingan saja karena kurang berpengaruh terhadap cerita.
            Jika dilihat dari sifatnya Huck sendiri berperan sebagai tokoh protagonis. Di awal cerita memang sempat di ceritakan bahwa dia bersama teman-temannya membuat sebuah perkumpulan penjahat, walaupun dalam kenyataanya tidak benar-benar menjadi penjahat. Namun dalam keseluruhan cerita dia malah ingin membantu temannya yakni Jim dalam usahanya mencari kebebasan diri yang seorang budak, begitu halnya dengan Jim yang turut membantu Huck dalam pelariannya.
Adapun Ayah Huck sendiri beserta tokoh lain yang menjadi lawan atau penghambat jalannya cerita bisa kita golongkan kepada kategori Antagonis.


Setting Dalam The Adventures of Huckleberry Finn
            Ada beberapa unsur atau element dalam setting yang harus kita ketahui terlebih dahulu.
1.      Tempat
2.      Waktu
3.      Kondisi Lingkungan



Dalam  setting sendiri dapat di bedakan menjadi tiga jenis setting.
1.      Netral Setting
Dimana setting hanya merupakan sebuah tempat dimana aksi atau kejadian terjadi dan tidak mempunyai nilai apa-apa.
2.      Spiritual Setting
Dimana setting sendiri mempunyai arti atau konotasi terhadap nilai-nilai yang ingin di sampaikan penulis.
3.      Dynamic setting
Dimana setting dapat mengambil peranan karakter. sebagai contoh : bisa menjadi Antagonis force dimana keadaan atau setting sendiri yang menghambat atau melawan terhadap karakter utama atau jalannya cerita.

            Dalam The Adventures of Huckleberry Finn setting tempatnya kebanyakan masuk di katergori setting netral. Setting tempat dalam cerita berada di sekitar sungai Missisipi mencakup daerah sekitarnya seperti Missouri, Illinois, dan Arkansas dan Kairo sekitar tahun 1830s-40s, yang berarti sebelum Civil War.

            Peranan setting kondisi lingkungan dalam cerita ini sangat berpengaruh terhadap perwatakan karakter, dapat kita lihat dari keadaan di keluarga Mrs. Douglas yang terbilang mapan dan berpendidikan. keadaan tersebut menimbulkan pembentukan dari sifat Mrs. Douglas sendiri yang bertata krama dan religius. berkebalikan dengan Ayah dari Huck sendiri yang bersifat kasar, tempramen dan pemabuk karena berasal dari golongan yang miskin dan jauh dari pendidikan.

Peranan setting waktu disini juga sangat berperan penting terhadap karakter-karakter yang ada dalam cerita. Sebagai contoh perilaku keluarga Grangeford pada Jim yang terlihat rasis, itu dikarenakan settingan waktu dalam novel sendiri sekitar 1830s-1840s yang pada zaman tersebut masih banyak proses diskriminasi terhadap orang kulit hitam sebagai budak yang diwakili ole Jim.

Dengan demikian, setelah melihat pemaparan diatas, dapat saya simpulkan bahwa peranan setting sedikit banyak berpengaruh terhadap karakterisasi yang ada dalam suatu cerita.

Perjalanan Spiritual Sastrawan Islam Abu'l Majid Majdud Sana'i

a.      Biografi dari Abu’l Majid Majdud Sana’i
Abu’l Majid Majdud Sana’ i bernama asli Abu bin al-Majd Majdūd Adam,  Banyak juga yang menyebutkan namanya sebagai Abū’ l-Majd Majdūd bin Adam. Tidak diketahui kapan dan dimana dia lahir, Hanya diketahui tentang sedikit tentang kehidupan dan tahun meninggalnya saja. Dia meninggal pada tahun 1131 di Ghazna yang sekarang disebut Afghanistan.
Dia termasuk kedalam penyair-penyair Persia karena dia adalah penulis puisi mistik (dalam hal ini yang bertemakan Religious) pertama yang menggunakan bahasa Persia. Karya-karyanya sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan sastra Persia dan sastra Islam.
Dia adalah salah satu penduduk di Ghazna (Afghanistan) yang awalnya bekerja sebagai seorang penyair di istana sebuah kerajaan besar di Ghazna yang bernama Ghaznavid. Dia sering kali melantunkan syair-syair indahnya kepada pera temu yang dating ke istana tersebut.
Pada suatu waktu dia mengalami suatu titik perubahan yang sangat drastic dalam hidupnya. Kejadian itu terjadi ketika dia ikut perjalanan militer bersama para pasukan dar kerajaan Ghaznavid bersama rajanya kala itu yang bernama Bahramshah ke daerah Turkmenistan.
Dalam perjalanan kesana dia bertemu dengan seseorang yang bernama Lai-Khur. Dia adalah seorang sufi yang hidup di zaman itu. Pertemuan keduanya membuat Sana’i melepaskan pekerjaanya sebagai penyair di istana. Dia lebih memilih untuk memperdalam ilmu-ilmu tentang ke agamaan walaupu sebenarnya Bahramshah terus membujuk Sana’i untuk berhenti bekerja sebagai penyair di istana. Bahramshah menjanjikan untuk memberikan harta yang berlimpah dan akan menjodohkan dia dengan putrinya yang cantik kalau dia bersedia kembali lagi ke Ghazna bersamanya. Namun Sana’i menolak permintaan tersebut. Dia lebih memilih untuk tetap bersama gurunya disana dan ingin belajar tentang ilmu-ilmu agama agar bisa lebih mendekatkan diri dengan yang maha kuasa.
Bertahun-tahun dia mempelajari agama bersama gurunya Lai-Khur, dia mendapatkan banyak pembelajaran baru yang sebelumnya belum dia ketahui ketika masih bekerja di istana. Ilmu yang di ajarakan oleh gurunya yang seorang Sufi sangat membekas kepada Sana’i. namun itu senua tidak membuat dia melupakan syair-syair dan lantunan-lantunan indah.
Ketika dia masih berguru dia sering membaca karya-karya dari Jalalludin Rumi yang kebanyakan karyanya membicarakan tentang ketuhanan. Karya-karyanya seolah terus terngiang-ngiang di kepala Sana’i sehingga mendorong dia untuk menciptakan karya seperti itu suatu hari kelak. Karena itulah banyak karya-karyanya yang bertemakan sama dengan Jalalludin Rumi yakni tentang ketuhanan yang dia buat. Sana’i sendiri mengakui bahwa Rumi merupakan orang yang sangat berpengaruh terhadap karya-karya yang dia buat, dia mengatakan hal tersebut dalam karyanya yang telah dubukukan dalam sebuah buku yang berjudul “Ḥadīqat al-ḥaqīqah wa sharīʿat aṭ-ṭariqah”.                                 
            Abu’l Majid Majdud Sana’i merupakan orang yang pertama kali menggunakan Rhyme atau disebut dengan “Masnavi”, dan Ode “Qasidah” dalam karyanya. karena itu dia sangat berpengaruh pada perkembangan sastra pada saat itu khususnya didalam perkembangan sastra muslim dan persia. Dia menyampaikan ide-ide filosofis dan etika tasawuf dalam puisi-puisinya.                          
             Hampir selama 900 tahun bukunya ini menjadi buku klasik yang digunaan sebagai buku teks Sufi. Sanai mengajarkan bahwa nafsu, keserakahan dan kegembiraan emosional berdiri di antara umat manusia dan pengetahuan ilahi, yang merupakan satu-satunya realitas sejati (Haqq). Cinta (Ishq) dan hati nurani sosial menurutnya menjadi dasar agama, umat manusia sedang tidur, hidup di dunia sepi. Untuk Sana’i agama umum hanyalah sebagai kebiasaan dan ritual saja.        
      b.  Karya Dari Abu’l Majid Majdud Sana’i
Sepanjang hidupnya Sana’i telah banyak menciptakan karya-karya berbentuk sya’ir-sya’ir dan puisi sebelum dia belajar bersama gurunya Lai-Khur ataupun sesudahnya. Ini semua dikarenakan dia telah menjadi penyair sebelumnya ketika bekerja di istana Bahramshah. Namun yang disayangkan kebanyakan karya-karyanya terdahulu tidak diketahui lagi, dikarenakan karya-karyanya terdahulu tertutup ketenarannya oleh salah satu karyanya yang terbaik dalam sebuah sebuah buku yang berjudul “Ḥadīqat al-ḥaqīqah wa sharīʿat aṭ-ṭariqah”.
“Ḥadīqat al-ḥaqīqah wa sharīʿat aṭ-ṭariqah” terdiri dari 10.000 Bait dan terdiri dari 10 bagian. Karyanya ini banyak membicarakan tentang ketuhanan dan filsafat Cinta. Karyanya ini sangat terkenal karena nilai-nilai kebajikan didalamnya. Karya inilah yang menjadi maha karya dari Abu’l Majid Majdud Sana’i dan menjadi karya yang pertama kali menggunakan rhyme “Masnavi”, dan Ode “Qasidah” sehingga setelah adanya karya ini kesusastraan persia mendapatkan pengaruh yang sangat kental olehnya
Hampir selama 900 tahun bukunya ini menjadi buku klasik yang digunaan sebagai buku teks Sufi. Sanai mengajarkan bahwa nafsu, keserakahan dan kegembiraan emosional berdiri di antara umat manusia dan pengetahuan ilahi, yang merupakan satu-satunya realitas sejati (Haqq). Cinta (Ishq) dan hati nurani sosial menurutnya menjadi dasar agama, umat manusia sedang tidur, hidup di dunia sepi. Untuk Sanai agama umum hanyalah sebagai kebiasaan dan ritual saja.
Karyanya ini telah banyak di cetak ulang, bahkan banyak puisi-puisi karyanya yang telah  dicetak dalam bahasa inggris.  Ketika saya mencari tentang contoh dari karya-karya Sana’i ini justru yang saya temukan adalah karya-karyanya yang telah dicetak dalam bahasa inggris. Sehingga sulit untuk membuktikan apakah benar dia menggunakan Rhyma dan ode.
Banyak yang menyebutkan bahwa karya ini dia buat sebagai persembahan kepada Bahramshah, majikannya ketika dia masih bekerja sebagai penyair di istana kerajaan Ghaznavid. Dia menciptakan karya ini tidak lama sebelum dia meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.
Awalnya dia menciptakan karya ini tidak secara menyeluruh sepenuhnya selesai, melainkan dibuat setengah-setengah. Karyanya ini di buat dalam beberapa salinan. Seseorang yang bernama Ali Raffa menyebutkan bahwa dia diperintahkan oleh Raja Bahramshah untuk mengumpulkan salinan puisi-puisi dari sana’i dan mencetaknya. Dia berhasil mengumpulkan 5000 bait dari puisi yang Sana’i tinggalkan ketika dia meninggal. Ternyata sebelumnya Sana’i telah mengirimkan karyanya terlebih dahulu ke to Borhān-al-Din Beryāngar Ḡaznavi, salah satu sekolah agama di baghdad yang berisi 10.000 bait. Dan dengan bantuan dari sekolah tersebut akhirnya karyanya ini berhasil di kumpulkan.
Proses diciptakannya puisi tersebut membuat bingung orang yang akan mencetak karyanya tersebut dalam memberikan judul. Dalam proses percetakannya terdapat beberapa kali perubahan judul, diantaranya: Faḵri-nāma ketika dicetak di Konya Istanbul, Elāhi-nāma dan terkahir barulah menjadi Ḥadiqat al-ḥaqiqa sampai sekarang.
Salah satu contoh bait puisi yang sudah di translate kedalam bahasa inggris oleh Andrew Harvey an Eryk Hanut  yang berjudul “Perfume of the Desert” dalam “Haqiqat al-haqiqa “.
Don't speak of your suffering -- He is speaking.
Don't look for Him everywhere -- He's looking for you.

An ant's foot touches a leaf, He senses it;
A pebble shifts in a streambed, He knows it.

If there's a worm hidden deep in a rock,
He'll know its body, tinier than an atom,

The sound of its praise, its secret ecstasy --
All this He knows by divine knowing.

He has given the tiniest worm its food;
He has opened to you the Way of the Holy Ones.

     
Kesimpulan
Setelah melihat penjelasan diatas maka dapat kia simpulkan bahwa Abu’l Majid Majdid Sana’i merupakan salah satu tokoh yang besar pengaruhnya dalam kesusastraan dunia dan khususnya dalam kesusastraan persia dan islam. Ini terlihat dari banyaknya salinan karyanya yang berjudul “Haqiqat al-Haqiqa” kedalam bahasa lain seperti inggris dan sebagainya.
Hampir selama 900 tahun bukunya tersebut menjadi buku klasik yang digunaan sebagai buku teks Sufi. Ini semua membuktikan bahwa betapa besar pengaruh dari Abu’l Majid Majdid Sana’i dalam kesusastraan khususnya persia dan Islam. Dengan begitu maka pantaslah  dia dinobatkan menjadi salah satu sastrawan islam yang sangat hebat.


 

Daftar Pustaka
  • "Hadiqat al-Haqiqa wa Shari'at al-Tariqa" In Encyclopædia Iranica by J.T.P. De Bruijn
  • E.G. Browne. Literary History of Persia. (Four volumes, 2,256 pages, and twenty-five years in the writing). 1998.
  • Jan Rypka, History of Iranian Literature. Reidel Publishing Company. 1968
  • Bo Utas, A Persian Sufi Poem: Vocabulary and terminology. Scandinavian Institute of Asian Studies Monograph Series, Curzon Press, 1977.

Other Source