Sabtu, 16 Juni 2012

Mengintip Isu Feminisme Dalam Novel “Jane Eyre” Karya Charlotte Bronte


Menurut saya konsep wanita yang ada pada zaman victorian khusunya pada zaman kehidupannya ini adalah bentuk pengekangan pada wanita., maka tokoh Jane yang ada dalam novel ini menurut saya adalah seperti gambaran seorang wanita yang berjuang untuk mendapatkan penyetaraan dengan laki-laki. Sekarang saya akan menganalisis secara sederhana dimana letak feminisme dalam novel ini yaitu bagaimana perjalanan Jane dalam usaha mendapatkan penyetaraan tersebut. Untuk melakukan hal itu saya akan membagi pembahasannya berdasarkan latar situasi yang berbeda sesuai yang ada dalam cerita di novel ini. Perjalanan Jane yang pertama adalah di Gateshoad yang bisa dianggap sebagai gerbang yang menggambarkan sebuah penindasan terhadap wanita sekaligus pembedaan hak terhadap peempuan dengan laki-laki.
 “you have no money; your father left
you none; you ought to beg, and not to live here with gentlemen’s
children like us, and eat the same meals we do, and
wear clothes at our mama’s expense. Now, I’ll teach you to
rummage my bookshelves: for they ARE mine; all the house
belongs to me, or will do in a few years.” (chapter 1)
Dari kutipan diatas dapat dikatakan bahwa John Reed yang merupakan seorang laki-laki ternyata memiliki derajat yang lebih dibanding perempuan, bahkan dsaudara perempuannya pun Eliza dan Georgiana tidak bisa melarang saudara laki-lakinya tersebut. Itu menggambarkan bahwa laki-laki memang memiliki kekuasaan yang lebih. Selain itu larangan John Reed untuk Jane yang meminjam bukunya pun menurut saya adalah sebuah bentuk yang menggambarkan bahwa memang wanita dikekang untuk mendapatkan pendidikan dan pengetahuan.
Kejadian yang kedua yaitu ketika Jane masuk di Lowood School
“I had the means of
an excellent education placed within my reach; a fondness
for some of my studies, and a desire to excel in all, together
with a great delight in pleasing my teachers, especially such
as I loved, urged me on: I availed myself fully of the advantages
offered me. In time I rose to be the first girl of the first
class; then I was invested with the office of teacher; which
I discharged with zeal for two years” (chapter 10)
Setelah Jane masuk sekolah dan mendapatkan pengetahuan serta keterampilan maka ini bisa sikatakan sebuah langkah yang diambil untuk keluar dari penindasan. Dengan bersekolah bisa menggambarkan bahwa wanita akan memiliki kecerdasan dan kemampuan yang sama dengan laki-laki. Walaupun dalam cerita tersebut di Lowood pun Jane merasa tertindas oleh Mr. Brokleshurs yang merupakan pemimpin dari Lowood School. Namun berdasarkan kutipan diatas Jane mendapatkan kemampuan setelah bersekolah dan kemampuan itu dapat digunakan dalam persaingan dengan laki-laki dalam kehidupan sehari-hari. Maka bila perempuan diberi kebebasan untuk mendapatkan pendidikan maka akan meiliki kemampuan yang sama seperti laki-laki tidak seperti yang terjadi pada zama victorian. Mungkin itu pesan yang tersirat dari cerita ini berdasarkan pada kutipan diatas.

Kejadian ketiga yaitu ketika Jane ada di di Moore House yang menurut saya pada saat itu posisi Jane sudah diakui dan ternyata Jane memiliki kemampuan yang sudah di akui oleh Mr. Rivers hingga Mr. Rivers pun meminta bantuannya. Dalam hal ini menurut saya menunjukan bila perempuat diberi kesempatan untuk berkembang maka hasilnya akan melebihi dari apa yang laki-laki bisa lakukan. Asumsi saya berdasarkan dari perkataan Mr.Rivers pada Jane saat mengajak Jane pergi ke India untuk membantunya mendidik atau melakukan yang berhubungan dengan dunia publik.
Jane, you are docile, diligent, disinterested,
faithful, constant, and courageous; very gentle, and very heroic:
cease to mistrust yourself—I can trust you unreservedly.
As a conductress of Indian schools, and a helper amongst Indian
women, your assistance will be to me invaluable.” (chapter 34)
Pernyataan Mr.Rivers tersebut menurut saya adalah suatu pembuktian bahwa perempuan juga bisa dibutuhkan dalam hal lain selain menjadi Angel of The House, sekaligus ini merupakan kritikan pada zaman Victorian yang kesetaraan itu belum terwujud.

Jadi kesimpulan yang dapat saya ambil berdasarkan anilisis sederhana diatas dengan mengutip beberapa bagian dari novel serta melihat dari sis sejarah dibuatnya novel ini saya dapat mengatakan bahwa sisi feminis dan inti permasalahan yang diperlihatkan oleh Charlotte Bronte adalah berupa kritikan yang ditujukan pada keadaan masyarakat yang ada pada zaman Victorian atau tepatnya pada zaman dirinya hidup. Seperti kita tahu pada zaman itu masih terjadi ketimpangan antara status perempuan dan laki-laki. Namun dalam kenyaataan kehidupannya pun Charlotte Bronte sudah mendobrak kebiasaan itu, seperti digambarkan oleh Jane dalam novel itu yang bersekolah dan menjadi guru ternyata pada kehidupan nyatanya pun Charlotte Bronte telah bersekolah dan menjadi guru. Bila muncul kenapa dalam cerita seorang perempuan yang bernama jane selalu ditindas oleh laki-laki menurut saya itu adalah gambaran bahwa perempuan dikekang pada zaman itu dan berada dibawah laki-laki statusnya. Namun pada akhirnya tetap Jane dapat bertahan dan bahkan bisa menentukan jalan hidupnya sendiri dalam berbagai hal baik itu cinta ataupun yang lainnya. Jadi tetap sisi feminis penulislah yang sangat ditonjolkan dalam novel ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar